Menang dalam Persidangan

Testimoni » Menang dalam Persidangan

Pengalaman yang saya alami ini saya harap tidak dialami oleh orang lain. Kemenangan itu memang hanya milik orang-orang yang di jalur kebenaran. Berawal dari sengketa tanah yang menyebabkan konflik antara saya dan kakak saya.

 

Setelah Papa meninggal, Mama pun membagikan warisan yang ditinggalkan Papa kepada kami. Orang tua kami hanya memiliki tiga orang anak. Ketiganya itu laki-laki, laki-laki, dan terakhir adik saya perempuan. Saya adalah anak tengah atau anak nomer dua.

 

Papa saya mempunyai lahan perkebunan karet yang amat luas. Saya rasa Papa pun telah membagi warisannya dengan amat adil.  Beberapa hektar dibagikan kepada kakak, saya, dan adik perempuan saya. tetapi Kakak saya bersikeras menolak apa yang telah didapatkannya. Ia ingin bagian yang lebih besar.

 

Tanah yang telah diwakafkan Papa untuk pembangunan pesantren, hendak diembat kakak saya semuanya. Tentu kami sangat geram melihat ulah kakak. Ia melakukan segala upaya untuk mendapatkan tanah itu. Padahal jelas-jelas ia sendiri pernah mendengar sendiri dari Papa, kalau tanah itu akan diwakafkan. Ia pun menyewa seorang pengacara kondang  dari Jakarta.

 

Mereka membawa persolan tanah ini ke pengadilan. Tetapi saya tak gentar. Berbekal mustika yang selama ini telah saya rawat. Saya seperti mempunyai kepercayaan diri yang begitu tinggi menghadapi kakak saya dan pengacaranya di pengadilan. Walaupun saya hanya didampingi pengacara kelas lokal, saya tetap yakin akan menang di depan hakim.

 

Alhamdulillah, setelah melalui perdebatan panjang akhirnya kubu kami yang menang. Karena saya merasa setiap kebaikan pasti ada jalan. Sampai saat ini hidup kakak pun terlunta-lunta karena kualat hendak memakan harta wakaf.

 

 Arif Rahman Hakim (38 tahun, pengusaha perkebunan karet, Cirebon)