Proses Penarikan Mustika Alam Ghaib

Artikel » Proses Penarikan Mustika Alam Ghaib

Proses penarikan mustika dari alam ghaib susah-susah gamang. Maksudnya, ada kalanya sangat mudah dan ada kalanya sangat sulit karena berbagai rintangan dan cobaan. Semakin kuat level energi atau khodam yang terkandung dalam Mustika Alam, biasanya proses penarikannya semakin berat. Pada artikel ini bisa Anda simak salah satu pengalaman Ki Sabrang Alam dalam melakukan penarikan mustika dari alam ghaib.

 

Ki Sabrang Alam pernah suatu kali bertandang ke Gunung Kawi, di kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Tempat yang masyhur di telinga masyarakat sebagai tempat mencari pesugihan. Namun Ki Sabrang Alam ke tempat tersebut bukan bermaksud untuk mencari pesugihan. Sebab ia tahu benar bahwa jalan pintas seperti itu tidak diperkenankan oleh ajaran agama manapun. Ia berkunjung ke Gunung Kawi karena ajakan salah seorang temannya yang seorang keturunan tiong hoa.

 

Karena kala itu Ki Sabrang Alam tiada kesibukan, maka ia turut saja temannya itu ke sana. Gunung Kawi sebenarnya bukanlah gunung tinggi seperti umumnya gunung-gunung yang terkenal akan ketinggiannya. Bahkan ketinggiannya kira-kira hanya 2.000 meter atau lebih tepatnya bisa dikatakan sebagai bukit.

 

Di sana Ki Sabrang Alam bertemu dengan salah seorang sesepuh yang banyak menceritakan asal-muasal gunung Kawi itu. Namun yang membuatnya lebih tertarik ialah ketika sang kakek bertemu dengan sosok harimau jelmaan Singo Barong. Harimau itu diceritakan sang kakek berbadan manusia tetapi berkepala macan atau harimau. Mempunyai suara yang menggelegar.

 

Orang awam yang melihatnya pasti akan merinding atau bahkan pingsan jika tak kuat menahan rasa takut. Beliau pun menuturkan mengenai sosok ini. Sosok yang tempo kali ditemuinya bukanlah jin. ia hanya khodam jelmaan dari sebuah mustika. Khodam mustika itu menjelma menjadi sosok yang menakutkan sebab ia bermaksud melindungi diri dari orang yang berniat mengambilnya dari alam gaib menuju dunia manusia. Ia tidak ingin dirinya jatuh pada orang yang salah. Maka dari itu ia menjelma menjadi penampakan yang menakutkan.

 

Sang Kakek pun menuturkan bahwa mustika itu pernah dimiliki oleh penguasa Kediri di masa silam yaitu Singo Barong. Singo Barong menggunakan mustika itu untuk melindunginya dari para musuh. Raja Singo Barong pun dikenal sebagai sosok yang sakti mandraguna. Kepada Ki Sabrang Alam, sang kakek pun menjelaskan sedikit legenda mengenai Singo Barong ini.

 

Alkisah. Prabu Kelono Sewandono adalah seorang raja yang daerah kekuasaannya meliputi kawasan Ponorogo dan beberapa daerah lainnya di Jawa Timur. Ia adalah seorang raja yang terpikat oleh kecantikan Dyah Ayu Songgolangit . Ia pun berusaha untuk meminang sang gadis ini. tetapi niatan Prabu  Kelono Sewandono ini mendapat rintangan dari Singo Barong Penguasa dari Kediri yang sama-sama ingin meminang sang gadis jelita.

 

Karena diperebutkan oleh dua penguasa besar, Dyah ayu Songgolangit pun memutuskan, bahwa yang akan mendapatkan dirinya menjadi istrinya salah seorang dari raja-raja itu adalah orang yang harus sakti mandraguna. Mendengar persyaratan Dyah Ayu Songgolangit, maka kedua raja itu berkesimpulan untuk saling mengalahkan. Prabu Kelana Sewandono tahu benar bahwa Singo Barong lebih sakti darinya. Singo Barong tidak mudah dilukai oleh benda pusaka apapun.

 

Setelah diusut ternyata Singo barong memiliki sebuah mustika yang membutanya digentari siapaun lawannya. Prabu Kelono Sewandono pun mengutus salah seorang selir yang cantik jelita untuk merayu Raja Singo Barong untuk dijadikan selir barunya. Setelah berhasil memikat sang raja, selir itu pun mengambil mustika sakti milik sang raja.  Pada saat hari pertempuran Raja Singo Barong pun dapat dikalahkan oleh Prabu Kelono Sewandono.

    

Mendengar cerita sang kakek, Ki Sabrang Alam merasa penasaran. Apakah memang benar adanya penuturan dari sang kakek tersebut. Khususnya mengenai pertemuannya dengan sosok berkepala harimau itu. Kepada temannya, Ki Sabrang Alam pun meminta untuk menginap semalam lagi di kawasan Gunung Kawi itu.  Ki Sabrang Alam pun tak lupa memohon kepada sang kakek untuk diberitahu di mana ia bisa menjumpai sosok yang diceritakannya.

 

Usai mendapat penjelasan dari sang kakek mengenai waktu dan lokasi tepatnya, Ki Sabrang Alam menunggu hingga tengah malam untuk menuju tempat yang ditunjukkan kepadanya. Sebelum berangkat ia melakukan penerawangan untuk mendeteksi energi yang akan ia temui. Ia memastikan bahwa energi yang datang itu bukan dari energi negatif.

 

Di tengah malam Ki Sabrang Alam melakukan perjalanan menuju lokasi yang ditunjukkan kakek. Beberapa saat Ki Sabrang Alam memendangi sekeliling. Suasana hening, hanya terdengar suara jangkrik dan binatang malam lainnya. Ia pun mengambil tempat untuk bersila. Memusatkan konsentrasi. Beberapa saat kemudian ia ditemui sosok ghaib seperti yang diceritakan kakek. Manusia berkepala harimau dengan mata yang merah menyala. Ia terlihat sangat marah.

 

Ki Sabrang Alam pun melakukan dialog dengan makhluk itu. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya di tempat itu bukan bermaksud untuk mengganggu. Namun lebih untuk  mengenal lingkungannya. Sosok itu pun marah. Ia tetap merasa terganggu, Aumannya terdengar begitu dahsyat. Makhluk berkepala macan itu mendekati Ki Sabrang Alam dan mencoba untuk melukainya.

 

Dengan sigap Ki Sabrang Alam menghindari makhluk itu. Ki Sabrang Alam menghadapi makhluk itu dengan bela diri ghaib yang pernah diajarkan sang maha gurunya. Dengan satu gebrakan, Ki Sabrang Alam dapat mengalahkan makhluk itu. Anehnya, makhluk yang semula berbentuk aneh itu kemudian berubah menjadi seorang kakek-kakek berjubah putih dengan rambut terikat.

 

Sosok itu ternyata khodam yang menghuni mustika Singa Barong. Khodam tersebut menawarkan diri untuk selalu menyertai Ki Sabrang Alam. Ki Sabrang Alam menyetujui kehendak khodam itu. Tetapi dengan satu syarat, jika ada seseorang yang lebih membutuhkan pertolongan. Maka Ki Sabrang Alam akan menyerahkan khodam itu kepada orang yang membutuhkan pertolongan itu. Khodam yang berwujud kakek itu pun menurut.

 

Khodam itu berubah menjadi cahaya putih kekuning-kuningan. Terbang dan menghilang tepat di balik bongkahan batu. Ki Sabrang Alam mendekatinya dan melakukan penetralan energi yang ada di sekitarnya. Ini dilakukan agar tidak ada energi negatif yang menyertai ketika ia menarik mustika itu dari tempat asalanya.

 

Sampai sekarang mustika itu masih disimpan Ki Sabrang Alam. Dengan izin Sang Maha Pencipta, Mustika itu memiliki kekuatan untuk menghindarkan diri dari bahaya, kekebalan, terhindar dari santet, juga untuk meningkatkan kewibawaan seseorang.